by CelvinMagang | 12 Aug 2026 | Artikel
Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan Kawah Ijen atau deretan pantainya yang eksotis. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota, tersimpan berbagai destinasi sejarah dan budaya yang menyimpan cerita panjang tentang perjalanan Bumi Blambangan dari masa kerajaan hingga kini. Buat kamu yang ingin liburan sambil belajar, berikut adalah 3 rekomendasi wisata sejarah dan budaya di Banyuwangi yang wajib masuk daftar liburanmu.
1. Taman Gandrung Terakota: Ribuan Patung Penari di Kaki Gunung Ijen
Taman Gandrung Terakota merupakan ikon wisata baru Banyuwangi yang menghadirkan lebih dari 1.000 patung penari Gandrung dari tanah liat di tengah hamparan sawah kaki Gunung Ijen . Ide pembangunannya datang dari Sigit Pramono, seorang mantan bankir dan fotografer lanskap yang terinspirasi dari Terracotta Army di Tiongkok .
Perpaduan Seni dan Alam yang Magis
Terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, taman ini menyuguhkan pemandangan sawah hijau yang berpadu dengan ribuan patung penari Gandrung. Suasana sejuk pegunungan dan nuansa magis membuat tempat ini terasa seperti dunia seni di ruang terbuka . Di area taman juga terdapat amfiteater yang sering dipakai untuk pertunjukan seni dan budaya lokal .
Makna Filosofis yang Mendalam
Tanah liat dipilih sebagai bahan patung karena melambangkan kehidupan yang membumi, erat dengan alam, dan penuh kesederhanaan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai dalam Tari Gandrung yang dulunya merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen melimpah . Setiap kali berkunjung, kamu tidak hanya menikmati keindahan, tapi juga diajak merenungkan filosofi hidup sederhana dan harmonis dengan alam .
Spot Instagramable dan Wisata Edukatif
Setiap sudut taman ini instagramable, terutama saat sore hari saat matahari mulai turun dan suasana menjadi syahdu dan dramatis. Tempat ini juga sering dijadikan lokasi festival budaya, pertunjukan musik, sampai acara seni lokal . Lokasinya yang tidak jauh dari kawasan Ijen menjadikannya pilihan sempurna untuk satu paket wisata: petualangan, seni, dan budaya dalam satu perjalanan .
2. Pendopo Sabha Swagata Blambangan: Arsitektur Perpaduan Kolonial dan Jawa
Pendopo Sabha Swagata Blambangan merupakan kompleks bangunan bersejarah yang berfungsi sebagai rumah dinas bupati Banyuwangi. Bangunan ini dibangun pada tahun 1771, bersamaan dengan berdirinya Kabupaten Banyuwangi pada masa kolonial Belanda yang disebut Regentschap .
Arsitektur Indische Empire Style
Secara visual, bangunan pendopo ini didominasi oleh gaya arsitektur “Indische Empire Style” yang terlihat pada bentuk atap perisai, dominasi bentuk persegi, simetri fasad, serta penggunaan material dinding, kolom, dan lantai yang khas . Gaya ini berkembang pada abad ke-18 dan ke-19 di Indonesia .
Pengaruh Arsitektur Tradisional Jawa
Selain gaya kolonial, terdapat pula pengaruh arsitektur tradisional Jawa pada bentuk atap tajug, penggunaan material kayu, serta ornamen flora pada lantai. Ragam hias lokal Banyuwangi juga menjadi pelengkap untuk menunjukkan budaya setempat . Perpaduan ini mencerminkan strategi kolonial Belanda yang membangun rumah bupati dengan bentuk rumah joglo sebagai miniatur keraton untuk merebut simpati masyarakat pribumi .
Saksi Sejarah Pemerintahan Banyuwangi
Bangunan ini memiliki peran vital karena mewadahi kegiatan pemerintahan di Banyuwangi sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini. Karakter visualnya yang merupakan perpaduan gaya kolonial dan tradisional Jawa menjadi identitas penting yang mencerminkan perjalanan sejarah Kota Banyuwangi .
3. Taman Sritanjung: Legenda Cinta yang Melahirkan Nama Banyuwangi
Taman Sritanjung adalah ruang hijau di pusat Kota Banyuwangi yang sarat nilai sejarah dan mitos. Nama taman ini diambil dari kisah legenda Sritanjung dan Sidapaksa, sepasang suami istri yang menjadi asal muasal nama “Banyuwangi”, yang berarti “air yang harum” .
Legenda yang Melegenda
Kisah cinta tragis Sritanjung dan Sidapaksa menjadi fondasi lahirnya nama Banyuwangi. Taman ini menjadi ruang refleksi yang mengingatkan pada nilai kesetiaan dan kejujuran dari kisah tersebut. Di sinilah sejarah, legenda, dan kehidupan modern masyarakat Banyuwangi berpadu dalam harmoni yang menenangkan .
Oase Hijau di Tengah Kota
Selain nilai legendarisnya, Taman Sritanjung juga menjadi oase hijau bagi warga. Suasana yang rindang dan asri menjadikannya tempat ideal untuk bersantai, berolahraga, atau menikmati sore hari bersama keluarga. Pepohonan rindang, udara sejuk, dan suasana yang tenang membuat taman ini terasa istimewa .
Destinasi Reflektif bagi Wisatawan
Bagi wisatawan, taman ini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang kontemplasi tentang makna sejarah dan identitas bangsa. Setiap sudut taman menyimpan pesan tentang perjuangan, cinta, dan jati diri masyarakat Banyuwangi .
Tips Berkunjung ke Wisata Sejarah dan Budaya Banyuwangi
Agar pengalaman wisatamu maksimal, perhatikan beberapa hal berikut:
-
Datang di pagi atau sore hari untuk menghindari panas terik, terutama saat mengunjungi Taman Gandrung Terakota yang berada di area terbuka
-
Siapkan kamera atau smartphone untuk mengabadikan momen di setiap destinasi yang memiliki spot foto aesthetic
-
Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman, terutama saat berkunjung ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang merupakan bangunan pemerintahan
-
Kombinasikan kunjungan dengan destinasi wisata lain yang berdekatan, seperti Taman Sritanjung yang berada di pusat kota dengan Museum Blambangan
-
Datang saat akhir pekan untuk merasakan suasana lebih hidup, terutama di Taman Sritanjung yang sering menjadi tempat berkumpul warga
Waktu Terbaik Berkunjung
Wisata sejarah dan budaya di Banyuwangi bisa dikunjungi sepanjang tahun. Namun, musim kemarau antara April hingga Oktober menjadi waktu yang paling nyaman karena cuaca cerah dan tidak terganggu hujan, terutama untuk destinasi luar ruangan seperti Taman Gandrung Terakota dan Taman Sritanjung.
Ketiga destinasi ini membuktikan bahwa pesona Banyuwangi tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kekayaan sejarah dan budaya yang hidup di setiap sudut kotanya. Dari ribuan patung penari Gandrung yang magis, arsitektur kolonial yang sarat makna, hingga legenda cinta yang melahirkan nama kota, wisata sejarah di Banyuwangi menawarkan perjalanan waktu yang tak terlupakan. Selamat menelusuri warisan Bumi Blambangan!
by CelvinMagang | 11 Aug 2026 | Artikel
Banyuwangi memang terkenal dengan Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, dan deretan pantainya yang eksotis. Namun, di balik pesona alamnya, Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga menawarkan beragam destinasi wisata edukasi yang tak kalah menarik. Buat kamu yang ingin liburan sambil belajar, berikut adalah 3 rekomendasi wisata edukasi di Banyuwangi yang wajib masuk daftar liburanmu.
1. Banyuwangi Park: Taman Belajar dan Rekreasi Tematik Pertama di Banyuwangi
Banyuwangi Park merupakan taman hiburan tematik pertama di Banyuwangi yang dikelola oleh Jatim Park Group, dengan konsep yang tidak jauh berbeda dari Jatim Park di Kota Batu . Tempat ini mengusung jargon “taman belajar dan rekreasi”, sehingga pengunjung bisa belajar sambil piknik .
Konsep Belajar Sambil Bermain
Berbeda dari taman hiburan biasa, Banyuwangi Park lebih mengangkat budaya Banyuwangi dalam setiap wahana dan sudutnya. Konsep ini menjadikannya destinasi yang tepat bagi keluarga yang ingin liburan edukatif tanpa meninggalkan unsur keseruan .
Wahana Edukasi yang Beragam
Di sini, pengunjung bisa menemukan berbagai wahana yang menyelipkan nilai edukasi, seperti replika rumah adat Osing sebagai rumah tradisional Suku Osing di Banyuwangi. Ada juga Science Center dengan alat peraga seputar pengetahuan alam, mulai dari simulasi gravitasi, simulasi harpa menggunakan laser, simulasi arus listrik, hingga simulasi terbentuknya tornado .
Lokasi Strategis dan Fasilitas Lengkap
Terletak di Dusun Krajan, Dadapan, Kabat, Banyuwangi, taman ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi atau dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit berkendara . Selain wahana edukasi, Banyuwangi Park juga dilengkapi dengan mini zoo, labirin, taman lalu lintas, rumah penyu, rumah kaca, cinema 4D, hingga kolam renang dengan kolam ombak dan kolam arus .
2. Museum Blambangan: Menyusuri Jejak Peradaban dari Prasejarah hingga Modern
Museum Blambangan merupakan museum umum yang didirikan pada 25 Desember 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu. Museum ini menjadi pusat pelestarian warisan budaya Kerajaan Blambangan yang pernah berjaya di ujung timur Pulau Jawa.
Ribuan Koleksi Benda Bersejarah
Museum yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 78 ini menyimpan sekitar 4.000 koleksi benda bersejarah. Koleksi tersebut mencakup berbagai periode, mulai dari prasejarah, masa Hindu-Buddha, kolonial, hingga era modern. Koleksi tertua bahkan berasal dari zaman prasejarah sekitar 3.000 tahun silam.
Koleksi Unggulan yang Langka
Beberapa koleksi unggulan Museum Blambangan antara lain Lingga Yoni yang merupakan sarana pemujaan masyarakat Hindu Jawa Banyuwangi, serta Materai kuno berbentuk seperti kancing baju dari tanah liat dengan tulisan mantra Budha menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. Benda ini termasuk langka karena di Indonesia biasanya hanya ditemukan di Borobudur dan Mojokerto.
Fasilitas Lengkap untuk Wisata Edukasi
Selain galeri koleksi benda museum, di sini juga terdapat Kereta Kerajaan, Geopark Ijen, Rumah Budaya, Bioskop mini, dan Ruang Musik Tradisional yang menarik untuk dikunjungi. Museum ini berperan sebagai pusat pembelajaran sejarah bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin memahami sejarah secara lebih nyata melalui benda-benda peninggalan yang dipamerkan .
3. Desa Wisata Adat Osing Kemiren: Belajar Budaya dan Tradisi Autentik
Desa Wisata Adat Osing Kemiren di Dusun Krajan, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, menawarkan pengalaman wisata edukasi yang berbeda. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung kehidupan di pedesaan dan budaya lokal Suku Osing yang masih sangat kental .
Paket Wisata Edukasi yang Lengkap
Desa wisata ini menawarkan paket wisata edukasi yang dirancang khusus. Pengunjung bisa belajar tentang adat istiadat, kesenian tradisional, hingga kuliner khas Osing seperti pecel pitik yang selalu hadir dalam setiap ritual sakral .
Nilai Sejarah dan Budaya yang Kental
Kemiren dikenal sebagai pusat kebudayaan Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Tradisi-tradisi seperti Barong Ider Bumi yang masih dilestarikan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin memahami kearifan lokal masyarakat setempat .
Peluang Berinteraksi Langsung dengan Masyarakat
Wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan warga, melihat rumah adat khas Osing seperti crocogan, gajah nggelar, dan tikel balung, menikmati pertunjukan seni seperti Tari Barong Kemiren dan musik patrol, hingga merasakan tradisi minum kopi khas Osing yang mencerminkan budaya kebersamaan masyarakat setempat . Pengembangan desa wisata ini melibatkan masyarakat lokal untuk memberdayakan komunitas setempat dan menjaga keberlanjutan tradisi .
Tips Berkunjung ke Wisata Edukasi Banyuwangi
Agar pengalaman wisata edukasimu maksimal, perhatikan beberapa hal berikut:
-
Datang di hari weekday untuk menghindari keramaian, terutama jika berkunjung dengan rombongan pelajar
-
Siapkan buku catatan atau kamera untuk mendokumentasikan informasi menarik yang didapat selama tur
-
Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman, terutama saat berkunjung ke Museum Blambangan atau Desa Adat Kemiren
-
Manfaatkan jasa pemandu lokal yang tersedia di setiap destinasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam
-
Bawa uang tunai untuk membeli oleh-oleh atau tiket masuk, karena beberapa tempat mungkin belum menerima pembayaran nontunai
Waktu Terbaik Berkunjung
Wisata edukasi di Banyuwangi bisa dikunjungi sepanjang tahun. Namun, musim kemarau antara April hingga Oktober menjadi waktu yang paling nyaman karena cuaca cerah dan tidak terganggu hujan, terutama untuk destinasi luar ruangan seperti Desa Kemiren.
Ketiga destinasi ini membuktikan bahwa Banyuwangi tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan pengetahuan dan pengalaman belajar yang berharga. Dari wahana edukasi interaktif di Banyuwangi Park, menyusuri ribuan koleksi bersejarah di Museum Blambangan, hingga merasakan langsung budaya autentik di Desa Kemiren, wisata edukasi di Banyuwangi siap memberikan pengalaman liburan yang tak terlupakan sekaligus menambah wawasan. Selamat berwisata sambil belajar di Bumi Blambangan!
by CelvinMagang | 11 Aug 2026 | Artikel
Banyuwangi memang terkenal dengan Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, dan deretan pantainya yang eksotis. Namun, di balik pesona alamnya, Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga menyimpan kekayaan wisata religi dan sejarah yang tak kalah menarik. Berikut adalah 3 rekomendasi destinasi wisata religi di Banyuwangi yang wajib masuk daftar liburan Anda.
1. Klenteng Hoo Tong Bio: Simbol Toleransi Berusia Ratusan Tahun
Klenteng Hoo Tong Bio merupakan salah satu bangunan bersejarah tertua di Banyuwangi yang menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi . Tempat ibadah umat Konghucu ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu keberagaman budaya di Bumi Blambangan.
Nilai Sejarah yang Tinggi
Klenteng ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, baik dari segi arsitektur, artefak, maupun kisah-kisah yang melekat padanya . Setiap sudut bangunan menyimpan cerita tentang akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Simbol Pluralisme Agama
Keberadaan Klenteng Hoo Tong Bio tidak hanya penting sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol pluralisme agama di Banyuwangi . Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Banyuwangi telah lama hidup dalam harmoni lintas budaya dan keyakinan.
Destinasi Wisata Sejarah
Dengan keunikan arsitektur dan nilai historisnya, klenteng ini berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah yang mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara . Pengunjung bisa belajar tentang sejarah, budaya, dan toleransi beragama dalam satu kunjungan.
2. Pura Tawang Alun: Tempat Suci di Tepi Samudra Selatan
Berlokasi di kawasan pesisir selatan Banyuwangi, tepatnya di Desa Tawang Alun, Kecamatan Pesanggaran, Pura Tawang Alun berdiri kokoh di tepi pantai yang dikenal dengan sebutan Pulo Merah . Keberadaannya menjadi saksi kebangkitan umat Hindu di tanah Jawa.
Sejarah dan Nilai Spiritual yang Mendalam
Secara fisik, pura ini mulai didirikan pada tahun 1980 dan awalnya hanya berupa sebuah palinggih Padmasana yang sederhana . Meski tidak megah, areal pura cukup luas dan memadai sebagai tempat persembahyangan umat Hindu. Letaknya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia menjadikannya memiliki ikatan kuat dengan alam.
Tragedi Tsunami 1993 yang Misterius
Pura Tawang Alun juga lekat dengan peristiwa tragis tsunami yang terjadi pada tahun 1993. Saat itu, gelombang besar dari Samudra Selatan menerjang kawasan pesisir dan memporak-porandakan permukiman warga di sekitar pura . Puluhan rumah hancur dan hanyut diterjang ombak.
Namun, di tengah dahsyatnya terjangan tsunami, bangunan Padmasana Pura Tawang Alun justru tetap berdiri kokoh. Terjangan ombak yang maha dahsyat tidak mampu merobohkan bangunan suci tersebut . Peristiwa ini hingga kini diyakini sebagai kejadian luar biasa yang sulit dijelaskan secara nalar manusia.
Destinasi Religi Umat Hindu dari Berbagai Daerah
Seiring waktu, Pura Tawang Alun berkembang menjadi salah satu destinasi religi penting bagi umat Hindu. Tak hanya dikunjungi umat Hindu setempat, pura ini juga menjadi tujuan persembahyangan umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Bali dan wilayah lain di Jawa . Pada hari-hari besar keagamaan, kawasan ini ramai oleh umat yang datang untuk bersembahyang.
3. Pura Agung Blambangan: Warisan Kerajaan Blambangan
Pura Agung Blambangan di Desa Tembok Rejo merupakan pura terbesar di Kabupaten Banyuwangi yang menyimpan nilai historis tinggi terkait Kerajaan Blambangan di masa lalu . Destinasi ini menjadi saksi kejayaan kerajaan Hindu di ujung timur Jawa.
Nilai Historis Kerajaan Blambangan
Pura ini memiliki bangunan candi yang mengandung nilai historis tinggi sebagai peninggalan Kerajaan Blambangan . Keberadaannya menjadi pengingat akan masa kejayaan kerajaan Hindu yang pernah berkuasa di wilayah ini.
Arsitektur Corak Jawa yang Kental
Keunikan Pura Agung Blambangan terletak pada arsitekturnya yang memiliki corak Jawa yang sangat kental, terlihat dari beberapa candi di bagian depan dan “Utama Mandala” pura ini . Deretan pelinggih yang terdapat di dalamnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Daya Tarik Wisatawan Mancanegara
Selain dikunjungi umat Hindu, pura ini juga sering mendapatkan kunjungan dari wisatawan asing yang kebetulan berkunjung ke Banyuwangi . Mereka sangat terkesan dengan deretan pelinggih dan nilai historis kejayaan kerajaan Hindu di masa lalu.
Tips Berkunjung ke Destinasi Wisata Religi Banyuwangi
Agar pengalaman wisata religimu maksimal, perhatikan beberapa hal berikut:
-
Kenakan pakaian sopan dan tertutup sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat ibadah dan nilai-nilai spiritual yang dijunjung di dalamnya
-
Datang di hari besar keagamaan untuk merasakan suasana yang lebih meriah dan sakral, seperti saat Galungan dan Kuningan di Pura Agung Blambangan
-
Jaga sikap dan perilaku selama berada di area pura atau klenteng, hindari berbicara keras atau bertindak tidak sopan
-
Minta izin sebelum mengambil foto, terutama di area yang dianggap sakral, untuk menghormati privasi dan kekhusyukan umat yang sedang beribadah
-
Gunakan jasa pemandu lokal untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang sejarah dan makna spiritual setiap destinasi
Waktu Terbaik Berkunjung
Kunjungan ke wisata religi bisa dilakukan sepanjang tahun. Namun, jika Anda ingin merasakan suasana yang lebih meriah, datanglah pada hari-hari besar keagamaan seperti Galungan dan Kuningan di Pura Agung Blambangan, atau saat perayaan Imlek di Klenteng Hoo Tong Bio. Pada momen-momen tersebut, Anda bisa menyaksikan langsung prosesi ibadah dan ritual yang sarat makna.
Ketiga destinasi ini membuktikan bahwa pesona Banyuwangi tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kekayaan sejarah, budaya, dan toleransi yang telah terjaga selama berabad-abad. Dari Klenteng Hoo Tong Bio yang menjadi simbol pluralisme, Pura Tawang Alun dengan kisah mistis di tepi Samudra Selatan, hingga Pura Agung Blambangan sebagai warisan Kerajaan Blambangan, wisata religi di Banyuwangi menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam dan tak terlupakan. Selamat menjelajahi sisi lain Bumi Blambangan!
by CelvinMagang | 11 Aug 2026 | Artikel
Banyuwangi memang sudah terkenal dengan Kawah Ijen dan fenomena blue fire-nya. Namun, bagi Anda yang mencari pengalaman liburan yang lebih tenang, personal, dan jauh dari keramaian, Bumi Blambangan ini menyimpan banyak destinasi hidden gem yang belum banyak dijamah wisatawan. Berikut adalah 6 rekomendasi wisata alternatif di Banyuwangi yang tak kalah memukau.
1. Pantai Cacalan: Menikmati Sunrise di Tepi Selat Bali
Berbeda dengan pantai selatan yang berombak besar, Pantai Cacalan menawarkan suasana yang lebih teduh dan bersahabat. Terletak hanya sekitar 10-15 menit dari pusat Kota Banyuwangi, pantai ini adalah pilihan tepat untuk short getaway yang santai .
Nama “Cacalan” sendiri dipercaya berasal dari istilah lokal untuk serpihan batu atau karang kecil yang banyak ditemukan di kawasan ini . Daya tarik utamanya adalah pemandangan sunrise di atas Selat Bali yang menakjubkan, dengan siluet perahu nelayan dan Pulau Bali di kejauhan . Dengan ombak yang relatif tenang dan tiket masuk yang terjangkau, pantai ini cocok untuk wisata keluarga .
2. Goa Sodong: Wisata Spiritual dengan Mata Air Alami yang Menyegarkan
Bagi Anda yang mencari ketenangan sekaligus nuansa spiritual, Goa Sodong adalah jawabannya. Tersembunyi di Dusun Pelinggihan, Desa Grogol, goa ini menyuguhkan mata air jernih yang mengalir langsung dari dalam gua dan membentuk kolam alami .
Keunikannya terletak pada struktur goa yang di luar tampak sempit, tetapi di dalamnya sangat luas, terbentuk secara alami dari batuan kapur . Konon, tempat ini dulunya digunakan sebagai lokasi pertapaan oleh tokoh spiritual setempat . Meski kini sudah mulai dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis), suasana asri dan sejuknya hutan di sekitarnya masih sangat terasa .
3. Telunjuk Raung: Kolam Alami dengan Panorama Gunung Perkasa
Salah satu hidden gem yang mulai viral di media sosial adalah Telunjuk Raung. Berada tepat di kaki Gunung Raung, tempat ini menawarkan panorama pegunungan yang hijau dan megah dengan kolam mata air alami . Debit aliran airnya yang tidak terlalu deras dan konon berbentuk lurus seperti telunjuk menjadi asal muasal namanya .
Dengan tiket masuk mulai dari Rp10.000, Anda sudah bisa menikmati beragam aktivitas seperti berenang, trekking ringan, hingga berkemah di area yang disediakan . Suasana pagi dan sore hari menjadi waktu favorit untuk menikmati keindahan alam sekaligus berburu foto estetik .
4. Green Island: Surga Tersembunyi bagi Pecinta Snorkeling
Bagi pecinta wisata bahari, Green Island menawarkan pengalaman yang berbeda. Pulau kecil ini memiliki air laut dengan gradasi biru dan hijau yang sangat jernih, menjadikannya spot snorkeling yang sempurna .
Untuk mencapai pulau ini, Anda perlu menempuh perjalanan dengan perahu sekitar 1 jam dari Pantai Mustika. Karena aksesnya yang agak sulit, pulau ini masih relatif sepi dan alami . Aktivitas favorit di sini adalah snorkeling untuk menikmati terumbu karang dan ikan-ikan tropis. Penting untuk diingat, karena fasilitas di sini masih terbatas, Anda disarankan membawa bekal makanan dan minuman sendiri .
5. Air Terjun Jagir: Tiga Aliran Air dalam Satu Kawasan
Terletak di Dusun Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Air Terjun Jagir menawarkan keunikan yang jarang ditemukan: terdapat tiga aliran air terjun sekaligus dalam satu kawasan . Dua di antaranya mengalir berdampingan dan sering dijuluki “air terjun kembar”, sementara satu lagi berada sekitar 300 meter di sebelah barat dengan posisi yang lebih tinggi .
Keindahan alam yang asri dengan air yang jernih ini dijuluki “Air Terjun Kembar” oleh wisatawan lokal . Anda bisa bermain air dan merasakan kesegaran mata air alami dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, mulai dari Rp5.000 per orang .
6. Pantai Wedi Ireng: Keunikan Dua Lapis Pasir
Pantai ini menyimpan keunikan geologis yang menarik. Tersembunyi di balik bukit di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Pantai Wedi Ireng dalam Bahasa Jawa berarti ‘pasir hitam’, mengacu pada lapisan pasir di pantai ini yang unik .
Yang menarik adalah, lapisan pasir putih menutupi lapisan pasir hitam di bawahnya . Untuk mencapai pantai ini, Anda bisa menggunakan dua jalur: menaiki perahu dari Pantai Mustika atau melalui jalur darat menggunakan sepeda motor melewati jalan bukit . Keunikan inilah yang membuatnya mulai banyak dilirik oleh para pemburu konten dan fotografer .
Tips Mengunjungi Hidden Gems Banyuwangi
-
Akses dan Transportasi: Beberapa destinasi seperti Green Island dan Pantai Wedi Ireng membutuhkan transportasi laut dan jalur yang menantang, sehingga sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu atau tur lokal .
-
Waktu Terbaik: Kunjungi destinasi pantai seperti Pantai Cacalan dan Green Island di pagi hari untuk menikmati sunrise dan cuaca yang cerah .
-
Perlengkapan: Untuk wisata bahari, bawa perlengkapan snorkeling, sunblock, dan topi. Sementara untuk trekking ke goa atau air terjun, gunakan sepatu yang nyaman .
-
Hormati Alam dan Budaya: Jaga kebersihan lingkungan, terutama di destinasi yang masih alami, dan hargai nilai-nilai spiritual serta adat istiadat setempat .
Dengan menjelajahi destinasi alternatif ini, liburan Anda di Banyuwangi akan terasa lebih berkesan dan autentik, jauh dari hiruk-pikuk wisatawan massal. Selamat berpetualang!