Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan Kawah Ijen atau deretan pantainya yang eksotis. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota, tersimpan berbagai destinasi sejarah dan budaya yang menyimpan cerita panjang tentang perjalanan Bumi Blambangan dari masa kerajaan hingga kini. Buat kamu yang ingin liburan sambil belajar, berikut adalah 3 rekomendasi wisata sejarah dan budaya di Banyuwangi yang wajib masuk daftar liburanmu.
1. Taman Gandrung Terakota: Ribuan Patung Penari di Kaki Gunung Ijen
Taman Gandrung Terakota merupakan ikon wisata baru Banyuwangi yang menghadirkan lebih dari 1.000 patung penari Gandrung dari tanah liat di tengah hamparan sawah kaki Gunung Ijen . Ide pembangunannya datang dari Sigit Pramono, seorang mantan bankir dan fotografer lanskap yang terinspirasi dari Terracotta Army di Tiongkok .
Perpaduan Seni dan Alam yang Magis
Terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, taman ini menyuguhkan pemandangan sawah hijau yang berpadu dengan ribuan patung penari Gandrung. Suasana sejuk pegunungan dan nuansa magis membuat tempat ini terasa seperti dunia seni di ruang terbuka . Di area taman juga terdapat amfiteater yang sering dipakai untuk pertunjukan seni dan budaya lokal .
Makna Filosofis yang Mendalam
Tanah liat dipilih sebagai bahan patung karena melambangkan kehidupan yang membumi, erat dengan alam, dan penuh kesederhanaan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai dalam Tari Gandrung yang dulunya merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen melimpah . Setiap kali berkunjung, kamu tidak hanya menikmati keindahan, tapi juga diajak merenungkan filosofi hidup sederhana dan harmonis dengan alam .
Spot Instagramable dan Wisata Edukatif
Setiap sudut taman ini instagramable, terutama saat sore hari saat matahari mulai turun dan suasana menjadi syahdu dan dramatis. Tempat ini juga sering dijadikan lokasi festival budaya, pertunjukan musik, sampai acara seni lokal . Lokasinya yang tidak jauh dari kawasan Ijen menjadikannya pilihan sempurna untuk satu paket wisata: petualangan, seni, dan budaya dalam satu perjalanan .
2. Pendopo Sabha Swagata Blambangan: Arsitektur Perpaduan Kolonial dan Jawa
Pendopo Sabha Swagata Blambangan merupakan kompleks bangunan bersejarah yang berfungsi sebagai rumah dinas bupati Banyuwangi. Bangunan ini dibangun pada tahun 1771, bersamaan dengan berdirinya Kabupaten Banyuwangi pada masa kolonial Belanda yang disebut Regentschap .
Arsitektur Indische Empire Style
Secara visual, bangunan pendopo ini didominasi oleh gaya arsitektur “Indische Empire Style” yang terlihat pada bentuk atap perisai, dominasi bentuk persegi, simetri fasad, serta penggunaan material dinding, kolom, dan lantai yang khas . Gaya ini berkembang pada abad ke-18 dan ke-19 di Indonesia .
Pengaruh Arsitektur Tradisional Jawa
Selain gaya kolonial, terdapat pula pengaruh arsitektur tradisional Jawa pada bentuk atap tajug, penggunaan material kayu, serta ornamen flora pada lantai. Ragam hias lokal Banyuwangi juga menjadi pelengkap untuk menunjukkan budaya setempat . Perpaduan ini mencerminkan strategi kolonial Belanda yang membangun rumah bupati dengan bentuk rumah joglo sebagai miniatur keraton untuk merebut simpati masyarakat pribumi .
Saksi Sejarah Pemerintahan Banyuwangi
Bangunan ini memiliki peran vital karena mewadahi kegiatan pemerintahan di Banyuwangi sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini. Karakter visualnya yang merupakan perpaduan gaya kolonial dan tradisional Jawa menjadi identitas penting yang mencerminkan perjalanan sejarah Kota Banyuwangi .
3. Taman Sritanjung: Legenda Cinta yang Melahirkan Nama Banyuwangi
Taman Sritanjung adalah ruang hijau di pusat Kota Banyuwangi yang sarat nilai sejarah dan mitos. Nama taman ini diambil dari kisah legenda Sritanjung dan Sidapaksa, sepasang suami istri yang menjadi asal muasal nama “Banyuwangi”, yang berarti “air yang harum” .
Legenda yang Melegenda
Kisah cinta tragis Sritanjung dan Sidapaksa menjadi fondasi lahirnya nama Banyuwangi. Taman ini menjadi ruang refleksi yang mengingatkan pada nilai kesetiaan dan kejujuran dari kisah tersebut. Di sinilah sejarah, legenda, dan kehidupan modern masyarakat Banyuwangi berpadu dalam harmoni yang menenangkan .
Oase Hijau di Tengah Kota
Selain nilai legendarisnya, Taman Sritanjung juga menjadi oase hijau bagi warga. Suasana yang rindang dan asri menjadikannya tempat ideal untuk bersantai, berolahraga, atau menikmati sore hari bersama keluarga. Pepohonan rindang, udara sejuk, dan suasana yang tenang membuat taman ini terasa istimewa .
Destinasi Reflektif bagi Wisatawan
Bagi wisatawan, taman ini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang kontemplasi tentang makna sejarah dan identitas bangsa. Setiap sudut taman menyimpan pesan tentang perjuangan, cinta, dan jati diri masyarakat Banyuwangi .
Tips Berkunjung ke Wisata Sejarah dan Budaya Banyuwangi
Agar pengalaman wisatamu maksimal, perhatikan beberapa hal berikut:
-
Datang di pagi atau sore hari untuk menghindari panas terik, terutama saat mengunjungi Taman Gandrung Terakota yang berada di area terbuka
-
Siapkan kamera atau smartphone untuk mengabadikan momen di setiap destinasi yang memiliki spot foto aesthetic
-
Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman, terutama saat berkunjung ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang merupakan bangunan pemerintahan
-
Kombinasikan kunjungan dengan destinasi wisata lain yang berdekatan, seperti Taman Sritanjung yang berada di pusat kota dengan Museum Blambangan
-
Datang saat akhir pekan untuk merasakan suasana lebih hidup, terutama di Taman Sritanjung yang sering menjadi tempat berkumpul warga
Waktu Terbaik Berkunjung
Wisata sejarah dan budaya di Banyuwangi bisa dikunjungi sepanjang tahun. Namun, musim kemarau antara April hingga Oktober menjadi waktu yang paling nyaman karena cuaca cerah dan tidak terganggu hujan, terutama untuk destinasi luar ruangan seperti Taman Gandrung Terakota dan Taman Sritanjung.
Ketiga destinasi ini membuktikan bahwa pesona Banyuwangi tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kekayaan sejarah dan budaya yang hidup di setiap sudut kotanya. Dari ribuan patung penari Gandrung yang magis, arsitektur kolonial yang sarat makna, hingga legenda cinta yang melahirkan nama kota, wisata sejarah di Banyuwangi menawarkan perjalanan waktu yang tak terlupakan. Selamat menelusuri warisan Bumi Blambangan!





